Aku sering bertanya-tanya akhir – akhir ini, “Sebenarnya seberapa waras sih lingkungan tempat aku hidup?” Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh, bahkan sedikit berlebihan.
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku, seperti saat aku melamun sekarang. Entahlah akhir – akhir ini, aku sering melamun dan terdiam efek lelah juga sepertinya.
Kitapun sepakat jika, lingkungan adalah cermin besar yang ikut membentuk cara kita berpikir, berperilaku, bahkan menentukan masa depan. Waras atau tidaknya sebuah lingkungan bisa menjadi penentu: apakah kita bertumbuh menjadi manusia yang sehat jiwa raganya, atau justru terseret dalam arus kegilaan yang semakin hari makin terasa normal.
Lingkungan di sini bukan hanya soal fisik—rumah, sekolah, kantor, atau tempat nongkrong—tetapi juga ekosistem sosial yang melingkupinya: keluarga, tetangga, teman, rekan kerja, hingga komunitas digital tempat kita menghabiskan sebagian besar hidup.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah semua itu masih sehat? Ataukah kita sedang hidup di dalam lingkaran yang perlahan-lahan membuat kita kehilangan kewarasan?
Kota yang Tak Pernah Tenang
Daftar Isi Artikel
ToggleWell, ya aku tinggal di kota yang katanya modern. Gedung-gedung tinggi berdiri gagah, lampu neon berkelip sepanjang malam, dan mal-mal megah jadi simbol kemajuan. Namun, di balik semua itu, aku kadang masih sering merasa asing. Seperti seseorang yang hadir di pesta besar, tetapi tidak benar-benar diundang.
Kota ini bising, terlalu bising. Suara mesin motor menderu, mobil-mobil berebut jalan, dan di sela-sela itu ada teriakan pedagang yang mencoba menawarkan dagangan mereka. Di sudut lain, ada orang yang tertidur di trotoar, beralaskan kardus tipis yang sudah lembap. Terlihat kontras perbandingannya. Sementara sebagian orang memamerkan kopi seharga sepuluh kali lipat dari upah harian seorang buruh, sebagian lainnya harus bertahan dengan perut kosong.
Lalu, aku bertanya pada diriku sendiri: jika lingkungan adalah cermin bagi penghuninya, maka seberapa waras sebenarnya tempat ini?
1. Lingkungan sebagai Cermin Jiwa
Bayangkan sebuah kolam. Jika airnya jernih, maka ikan di dalamnya akan sehat, tumbuh baik, dan berenang dengan bebas. Namun jika kolam itu kotor, penuh limbah, penuh kotoran dan minim oksigen, ikan akan stres, sakit, bahkan mati. Begitulah manusia dalam lingkungan sosial.
Ketika kita dikelilingi orang-orang yang penuh kepedulian, saling menghargai, dan mendorong untuk berkembang, maka kita akan tumbuh sehat. Sebaliknya, jika kita berada dalam lingkungan yang penuh iri, gosip, kebencian, serta toxic competitiveness, maka waras pun perlahan-lahan terkikis. Yang tersisa hanyalah manusia yang hidup, tapi tanpa jiwa.
2. Lingkungan Keluarga: Waras atau Hanya Tampak Baik?
Akupun termasuk orang yang mengamini, kewarasan seseorang hampir selalu dimulai dari lingkungannya yang paling kecil: keluarga. Rumah adalah sekolah pertama, tempat kita belajar mengenali kasih sayang, memahami batas, serta menemukan identitas. Namun, tidak semua rumah menghadirkan kenyamanan.
Ada keluarga yang penuh kehangatan—di mana percakapan makan malam bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang aman untuk saling berbagi cerita. Dalam keluarga seperti ini, kewarasan tumbuh subur. Anak-anak belajar bahwa dunia bisa menjadi tempat yang ramah, dan orang tua menyadari bahwa mendengarkan sama pentingnya dengan mengajarkan.
Banyak orang berkata: keluarga adalah tempat ternyaman. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada keluarga yang terlihat harmonis di luar, tetapi sebenarnya penuh bentakan, tuntutan, dan minim empati di dalam. Ada juga keluarga sederhana tanpa banyak harta, tapi penuh dengan tawa, pelukan, dan doa yang membuat setiap anggota merasa aman.
Maka, jika kita bertanya “seberapa waraskah lingkunganmu?”, mulailah dari rumah. Apakah rumahmu tempat yang aman untuk pulang?
Ini 3 Pertanyaan mendasar yang bisa kamu tanyakan ke dirimu sendiri:
- Apakah keluargamu tempat di mana kamu bisa pulang dengan tenang, atau justru sumber stres yang ingin kamu hindari?
- Apakah orang tuamu mengajarkan cinta dengan teladan, atau hanya dengan kata-kata yang kosong?
- Apakah ada ruang untuk mendengar, atau hanya ruang untuk menuntut?
Waras atau tidaknya sebuah lingkungan keluarga, sangat memengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang biasanya lebih percaya diri, lebih berani mengambil keputusan, dan lebih sehat secara mental.
Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan, baik verbal maupun fisik—seringkali membawa luka yang tak kasatmata hingga dewasa.
Ya, tapi kita tidak bisa meminta kita mau dilahirkan dikeluarga seperti apa wkwkwk, bahkan kalaupun reinkarnasi itu ada, aku sepertinya akan meminta ke tuhan supaya terlahir di keluarga yang berpengaruh. Hmmm terlahir di keluarga John F. Kennedy maybe, sounds delusional haha 😀😀😀
3. Lingkungan Pertemanan: Cermin yang Memantulkan Jati Diri
Setelah keluarga, kita bertumbuh di lingkaran pertemanan. Sahabat, rekan, hingga orang-orang yang kita pilih untuk dekat, semua membentuk wajah kedua dari kewarasan lingkungan.
Lingkungan pertemanan yang sehat biasanya ditandai dengan saling mendukung tanpa menghakimi. Mereka yang benar-benar teman akan merayakan keberhasilanmu tanpa iri, sekaligus mengulurkan tangan saat kamu terpuruk. Lingkungan pertemanan yang demikian adalah penyangga kewarasan yang luar biasa.
Namun, ada juga lingkungan pertemanan yang justru melelahkan. Misalnya, pertemanan yang dipenuhi kompetisi tersembunyi, gunjingan, atau tuntutan untuk selalu tampil sempurna, membandingkan hidup dianggap motivasi, mengejek dianggap keakraban, lama-lama, kita lupa bagaimana rasanya memiliki teman yang benar-benar peduli. Dalam lingkaran semacam ini, kewarasanmu perlahan terkikis, karena kamu dipaksa menjadi orang lain hanya demi diterima.
- Pertanyaannya: apakah teman-temanmu membuatmu lebih mengenali dirimu sendiri? Atau justru membuatmu kehilangan jati diri sedikit demi sedikit?
Sebenarnya, menurutku kita tidak perlu banyak teman. Ya, 2 – 3 orang juga sudah cukup asal pertemanannya benar – benar tulus.
4. Lingkungan Kerja: Ladang Rezeki atau Kuburan Mimpi?
Ketika memasuki dunia kerja, banyak orang baru sadar: tidak semua lingkungan profesional itu waras. Ada kantor yang memang mendorong karyawannya untuk tumbuh, memberikan apresiasi, dan menyediakan ruang belajar. Namun lebih banyak lagi kantor yang justru memperlakukan karyawan sebagai mesin: dituntut menghasilkan banyak tanpa pernah diberi waktu bernapas.
Lingkungan kerja yang tidak sehat sering ditandai dengan:
- Budaya lembur yang dianggap normal.
- Atasan yang lebih suka menyalahkan daripada membimbing.
- Rekan kerja yang bersaing dengan cara menjatuhkan.
- Minimnya penghargaan untuk kerja keras.
Jika kamu bekerja di tempat seperti ini, maka setiap hari rasanya seperti berperang. Bukan hanya dengan pekerjaan, tetapi juga dengan dirimu sendiri. Semua itu bisa menggerus kesehatan mental. Dalam jangka panjang, orang-orang yang berada di lingkungan kerja semacam ini akan kehabisan semangat, bahkan kehilangan makna dalam bekerja.
- Di sinilah pertanyaan muncul: apakah pekerjaan ini hanya memberi uang, atau juga mencuri kewarasanmu?
5. Lingkungan Digital: Dunia Maya yang Makin Nyata
Di era modern, lingkungan tidak lagi hanya fisik. Media sosial, forum, grup chat, bahkan kolom komentar berita, semua itu kini menjadi bagian dari ekosistem kita.
Pertanyaannya: seberapa waraskah dunia digitalmu?
Hari ini, media sosial misalnya, telah menjadi bagian dari lingkungan yang sehari-hari kita hirup dan seringkali jadi ruang penuh kepalsuan.
Foto liburan yang sebenarnya diambil setelah ribut besar, konten motivasi yang dibuat oleh orang yang sebenarnya sedang depresi, hingga tren konsumtif yang membuat banyak orang merasa tidak cukup. Jika kita tidak sadar, kita bisa terseret dalam “lingkungan” digital yang membuat kita cemas, iri, dan kehilangan identitas.
Media sosial juga memiliki beberapa sisi gelap. seperti: tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, perbandingan yang tidak sehat, hingga arus informasi negatif yang tiada henti.
Di sisi lain, media sosial juga bisa jadi tempat menemukan inspirasi, belajar hal baru, atau menemukan komunitas yang benar-benar peduli. Akupun sering datang ke acar – acara atau event – event besar karena ya dapat notifikasi juga dari media sosial ini. Lagi-lagi, lingkungan ini tergantung pada siapa yang kita ikuti, konten apa yang kita konsumsi, dan ya, bagaimana kita memaknainya.
6. Lingkungan Fisik: Alam, Kota, dan Ruang Hidup
Selain sosial, aspek fisik dari lingkungan juga menentukan kewarasan. Bayangkan tinggal di kota yang penuh polusi, minim ruang hijau, dan bising tanpa henti. Rasanya sulit menjaga pikiran tetap jernih. Sebaliknya, hidup di lingkungan yang dekat dengan alam, udara segar, dan ruang terbuka hijau sering memberi ketenangan batin yang tidak tergantikan.
Lingkungan fisik yang sehat bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering bersentuhan dengan alam cenderung lebih bahagia dan lebih sedikit mengalami stres, daripada mereka yang jarang berlibur hahaha 🙂
Jadi, pertanyaan berikutnya: apakah lingkungan fisik tempatmu tinggal memberi ruang untuk bernapas lega? Atau justru membuatmu terjebak dalam hiruk-pikuk tanpa jeda?
Mengukur Kewarasan Lingkungan
Setelah menelusuri berbagai aspek lingkungan, bagaimana cara kita tahu apakah lingkungan kita waras atau tidak? Ada beberapa indikator sederhana yang bisa dijadikan tolok ukur:
- Apakah kamu merasa aman untuk menjadi dirimu sendiri?
Lingkungan yang waras tidak memaksamu memakai topeng, melainkan menerima siapa dirimu. - Apakah kamu punya ruang untuk tumbuh?
Baik di rumah, pekerjaan, maupun pertemanan, kewarasan tercermin dari adanya ruang untuk berkembang tanpa takut dihukum karena gagal. - Apakah kamu merasa didukung, bukan dihakimi?
Lingkungan yang sehat akan memberi dukungan ketika kamu jatuh, bukan justru menertawakan atau meremehkanmu. - Apakah ada keseimbangan?
Lingkungan yang waras memungkinkanmu punya waktu untuk bekerja, beristirahat, bersosialisasi, dan menikmati diri sendiri. - Apakah kamu merasa bahagia, bukan sekadar bertahan?
Hidup di lingkungan yang sehat membuatmu bersemangat menjalani hari, bukan sekadar menghitung waktu sampai bebas.
Membangun Kewarasan di Lingkungan
Jika ternyata setelah bercermin, kamu merasa lingkunganmu tidak cukup waras, apa yang bisa dilakukan? Ada dua jalan: mengubah atau menjaga jarak.
- Mengubah Lingkungan
Ini berarti berusaha menciptakan ruang yang lebih sehat. Misalnya, membangun komunikasi lebih baik di rumah, menciptakan budaya kerja yang lebih suportif, atau ikut aktif dalam komunitas yang peduli dengan lingkungan hidup. - Menjaga Jarak
Ya, akupun juga akan mempertimbangkan opsi kedua ini sepertinya, menjaga jarak bisa jadi solusi. Tidak semua pertemanan perlu diteruskan, tidak semua interaksi media sosial perlu diikuti, dan tidak semua kebiasaan masyarakat perlu ditelan mentah-mentah. Karena kita tidak bisa mengubah orang lain, kecuali mereka sendiri yang menginginkannya.
Kewarasan adalah hak setiap orang. Karena itu, menjaga diri tetap waras juga berarti berani memilih lingkungan yang lebih sehat, meski kadang harus meninggalkan yang lama.
Pada akhirnya, pertanyaan “seberapa waraskah lingkunganmu?” bukan sekadar pertanyaan introspektif. Ini juga panggilan untuk bertanggung jawab. Karena kita bukan hanya korban lingkungan, tetapi juga bagian dari lingkungan itu sendiri.
Setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan, akan memengaruhi kewarasan orang lain di sekitar kita. Maka, jika kita ingin tinggal di lingkungan yang sehat, langkah pertama adalah dengan menjadi pribadi yang membawa kewarasan itu sendiri: mendengarkan lebih banyak, menghakimi lebih sedikit dan mendukung lebih tulus.
Menjaga Waras di Dunia yang Kadang Gila
Dunia hari ini penuh dengan tantangan kewarasan. Informasi yang berlimpah, tuntutan hidup yang tinggi, hingga dinamika sosial yang tak menentu, semuanya bisa membuat kita merasa kewalahan.
Namun, jika kita punya lingkungan yang waras, rumah yang aman, teman yang mendukung, pekerjaan yang sehat, masyarakat yang adil, dan ruang fisik yang nyaman. Maka kita punya fondasi kuat untuk tetap bertahan.
Jadi, seberapa waraskah lingkunganmu?
Jawaban itu mungkin berbeda-beda bagi setiap orang. Tapi satu hal pasti: kewarasan lingkungan adalah kunci kewarasan diri. Jika lingkunganmu belum cukup sehat, mulailah dengan langkah kecil, dari dirimu sendiri. Karena kewarasan, pada akhirnya, adalah lingkaran yang bisa diciptakan bersama.
PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan
Source image : freepik.com



