Terimakasih Untuk Senyuman Indah Yang Pernah Kau Berikan Kepadaku Di Abad 21

Terimakasih Untuk Senyuman Indah Yang Pernah Kau Berikan Di Abad 21

Akhir – akhir ini sungguh kadang aku merasa kurang produktif, ditengah – tengah kesibukan kerja dan persiapan melanjutkan S2, les bahasa inggris, belajar lagi. Hfffttt,  kadang di tengah – tengah rasa lelah ini, aku membuka dan scroll tik tok, ada salah satu cuplikan video lewat yang isinya kurang lebih seperti ini :

Ketika tubuhku telah membusuk di perut bumi, cacing-cacing akan berpesta ria menyantap kedua mataku. Namun di sela santapannya, mereka akan ikut merasakan manisnya senyummu, senyum yang pernah kulihat di bawah langit abad ke-21. Hingga akhirnya mereka meninggalkanku dan memilih menghabiskan waktunya mencari tanah tempat jasadmu bersemayam.

Saat itu aku tertegun membacanya, dan merenungi sesuatu:

Ketika napas terakhir telah terhembus dan tubuh menjadi dingin, dunia perlahan menutup pintu bagi segala kenangan. Waktu berhenti di antara detak jam yang kosong, sementara tubuhku, yang dulu begitu hidup, kini terbaring di perut bumi,  menunggu untuk dilupakan. Tanah yang menyelimutiku, lembap dan pekat, membawa aroma pembusukan yang pelan-pelan menjadi nyanyian sunyi bagi kematian.

Dalam kesunyian tanah yang lembap dan pekat, tubuh yang dahulu hidup kini perlahan melebur menjadi bagian dari bumi. Setiap serpihan daging yang membusuk menjadi santapan bagi cacing-cacing yang setia menunaikan tugas alamiahnya: mengurai kehidupan menjadi kesenyapan. Namun, di antara pesta tanpa suara itu, terselip sesuatu yang tak bisa mereka cerna sepenuhnya;  jejak kenangan yang tak kasatmata, manis dan halus, seperti aroma nostalgia yang tak pernah benar-benar lenyap.

Cacing – cacing berpesta ria, mengunyah setiap bagian tubuhku, termasuk kedua mataku,  mata yang dulu sempat memandang senyum indahmu dengan penuh cinta di bawah langit abad ke-21. Namun sesuatu yang aneh terjadi di tengah santapan mereka. Di sela rasa getir dan busuk daging, mereka merasakan sesuatu yang manis, sesuatu yang tak semestinya ada di liang lahat. Itu bukan dagingku, bukan darahku. Itu adalah jejak  senyummu. Senyum yang pernah kau berikan padaku di bawah langit abad ke-21. 

Senyum itu, entah bagaimana, tertinggal di dalam diriku,  seolah menolak pergi bersama napas terakhirku. Dan kini, bahkan cacing-cacing itu pun merasakannya. Mereka berhenti menggigiti tubuhku. Mereka terdiam, seakan tersentuh oleh rasa yang tak bisa dijelaskan. Seolah mereka pun mengerti bahwa yang mereka makan bukan sekadar daging, melainkan sisa cinta yang tak sempat padam.

Lalu, satu per satu mereka pergi setelah menguraikan jasadku. Mereka meninggalkanku di tengah tanah yang gelap dan dingin, mencari arah lain, mencari tempat di mana jasadmu bersemayam. Mereka ingin menemukan sumber rasa manis yang mereka cicipi dari mataku. Dan di sanalah, jauh di sudut lain bumi yang sama, mereka menemukannya: tanah yang menutupi tubuhmu. Di bawah gundukan itu, kehangatan terasa berbeda. Tanah di sana seolah bernapas, lembut, dan tenang,  seperti memeluk seseorang yang mereka rindukan.

Aku bisa membayangkannya, meski tak lagi punya mata. Aku bisa merasakannya, meski sudah tak punya tubuh. Kau dan aku kini sama-sama diam, namun bumi seakan menjadi perantara bagi rindu yang tak sempat tersampaikan. Cacing-cacing itu menjadi saksi bisu atas cinta yang tetap berdenyut bahkan setelah kematian memisahkan kita. Mereka menjadi penghubung, makhluk kecil yang tahu bahwa ada sesuatu yang lebih abadi dari kehidupan, yakni “kenangan”.

Dulu di masa mudaku aku takut dengan kematian. Tapi, kini, aku bahkan tak takut membusuk. Sebab aku tahu, bahkan saat tubuhku lenyap, senyummu tetap hidup di dalam tanah yang sama. Kita mungkin tak lagi bisa saling memandang, tapi bumi menyatukan kita dengan cara yang paling lembut dan paling kejam sekaligus. Dalam keheningan kubur ini, aku merasa kita tak benar-benar terpisah. Kau ada di sana, aku di sini, tapi cinta dan rasa rindu itu masih bernafas di antara lapisan tanah yang lembap dan dingin ini.

Mungkin suatu hari nanti, langit abad ke-21 akan melupakan nama kita. Tak akan ada yang mengingat kisah dua manusia yang pernah mencintai di dunia yang terlalu cepat berubah. Namun aku tahu satu hal  selama bumi masih berputar, senyummu akan tetap bersemayam di antara debuku, mengalir bersama waktu, menembus kematian, dan mengubah bahkan cacing sekalipun menjadi saksi bahwa cinta tak pernah benar-benar usai.

 

Sebenarnya Aku ingin sekali menemuimu sekali lagi, tapi bahkan bumi pun tak mengizinkan kami bersatu kembali. Ia hanya memberiku satu hiburan kecil, kenyataan bahwa cacing-cacing yang meninggalkanku kini tinggal di tanahmu, memakan sisa tubuhmu yang dulu pernah memelukku. Dengan begitu, mungkin… lewat mereka, akhirnya kita bersentuhan lagi.

 

PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan

Source image : freepik.com