Jadi minggu ini temenku merekomendasikan 2 film terbaik satu tentang pendidikan dan satunya tentang dating in this mature age hahaha. 😄😄😄
Oke, salah satu film terbaik tersebut, yakni: Film Materialists. Film ini adalah potret romansa modern yang tidak berusaha terlihat manis, tidak juga sok pahit. Disutradarai oleh Celine Song, film ini kembali membuktikan bahwa kisah cinta tidak selalu harus dibungkus drama besar atau konflik berisik untuk terasa menyentuh. Seperti Past Lives, Materialists bergerak pelan, sunyi, dan reflektif tapi justru di situlah kekuatannya.
Sekilas, Materialists tampak seperti film romansa biasa: tentang cinta, pilihan hidup, dan hubungan masa lalu. Namun semakin lama ditonton, film ini justru terasa seperti cermin memantulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin jarang kita ucapkan, tapi sering kita rasakan.
Well, ini bukan film tentang cinta ala dongeng. Ini film tentang cinta di usia dewasa, ketika perasaan sudah tidak berdiri sendirian, melainkan harus berbagi ruang dengan cicilan, ambisi, trauma, dan rasa takut akan masa depan.
Lucy dan Dunia yang Mengukur Cinta dengan Angka
Daftar Isi Artikel
ToggleTokoh utama Materialists adalah Lucy, seorang matchmaker profesional yang hidup dan bekerja di kota besar. Setiap hari, ia membantu klien-kliennya menemukan pasangan “ideal” yang sering kali berarti pasangan dengan gaji tinggi, latar belakang bagus, dan status sosial yang menjanjikan. Dalam pekerjaannya, cinta adalah sesuatu yang bisa dianalisis, diseleksi, dan disesuaikan dengan kebutuhan hidup.
Lucy sangat pandai menilai hubungan orang lain. Tapi ketika menyangkut dirinya sendiri, semua itu menjadi rumit.
Di hidup pribadinya, Lucy dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak mudah. Satu adalah pria yang stabil secara finansial, mapan, dan menawarkan rasa aman. Pilihan lain adalah mantan kekasih yang masih menyisakan rasa cinta mendalam hubungan yang penuh emosi dan keintiman, tapi juga ketidakpastian.
Film ini tidak terburu-buru memaksa Lucy memilih. Sebaliknya, penonton diajak menyelami kebimbangannya: ketakutan mengulang kesalahan lama, kelelahan hidup tanpa kepastian finansial, sekaligus rasa bersalah Lucy karena mempertanyakan cinta dari sudut materi.
Romansa yang Tidak Menghakimi
Yang membuat Materialists terasa dewasa adalah caranya menyajikan konflik tanpa menghakimi. Film ini tidak menyebut Lucy sebagai sosok “matre”, juga tidak mengglorifikasi cinta yang penuh pengorbanan tanpa batas. Semua pilihan ditampilkan dengan porsi yang adil.
Celine Song seolah ingin mengatakan bahwa mencintai dengan realistis bukan berarti kehilangan romantisme, dan menginginkan hidup yang aman bukan berarti mengkhianati perasaan. Di dunia yang serba mahal, keinginan untuk stabil bukanlah kelemahan itu naluri bertahan hidup.
Dialog-dialog dalam film ini sering terasa sederhana, tapi menyimpan makna yang dalam. Banyak percakapan yang tampak biasa saja, namun meninggalkan efek emosional karena terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Tidak ada kata-kata puitis berlebihan, hanya kalimat jujur yang kadang justru menyakitkan.
Akting yang Menyampaikan Luka Tanpa Teriakan
Penampilan para pemain di Materialists sangat mengandalkan keheningan. Lucy, sebagai karakter utama, jarang menunjukkan emosi secara eksplosif. Ia lebih sering diam, menimbang, menahan, dan memendam. Tapi justru di situlah kita bisa merasakan beratnya konflik batin yang ia alami.
Tatapan mata, jeda sebelum menjawab, dan bahasa tubuhnya menjadi alat utama bercerita. Kita bisa melihat bagaimana Lucy mencoba meyakinkan dirinya sendiri, sekaligus melawan isi hatinya.
Interaksi antara Lucy dan dua pria dalam hidupnya juga terasa realistis. Tidak ada karakter yang benar-benar “jahat”. Semua digambarkan sebagai manusia dengan kekurangan, harapan, dan ketakutannya masing-masing. Ini membuat film terasa sangat manusiawi.
Visual yang Tenang, Kota yang Dingin
Secara visual, Materialists tampil minimalis dan rapi. Kota besar digambarkan sebagai ruang yang indah tapi dingin, tempat di mana semua orang bergerak cepat, mengejar sesuatu, dan jarang punya waktu untuk benar-benar berhenti.
Banyak adegan diambil dengan framing sederhana, tanpa kamera yang agresif. Warna-warna netral mendominasi, seolah menegaskan suasana emosional para karakternya: tenang di luar, tapi penuh gejolak di dalam.
Musik dalam film ini juga digunakan secara hemat. Tidak ada scoring berlebihan untuk memanipulasi emosi penonton. Banyak momen penting justru dibiarkan sunyi, memberi ruang bagi kita untuk ikut berpikir dan merasakan.
Secara pribadi, Materialists adalah film yang terasa sangat “kena” jika ditonton di usia tertentu (27 years above) usia di mana cinta tidak lagi sesederhana rasa suka, dan pilihan hidup tidak bisa diambil hanya dengan hati.
Film ini membuat saya merenung tentang bagaimana kita sering merasa bersalah karena mempertimbangkan faktor materi dalam hubungan. Padahal, realitanya, hidup memang membutuhkan kestabilan. Namun di saat yang sama, film ini juga mengingatkan bahwa terlalu rasional bisa membuat kita kehilangan koneksi emosional yang tidak tergantikan.
Film ini juga terasa seperti percakapan dewasa yang jarang kita lakukan secara jujur tentang uang, cinta, dan ketakutan akan masa depan. Tanpa menggurui, tanpa menghakimi, Materialists mengajak kita bertanya:
“Jika semua idealisme diuji oleh realita, apa yang benar-benar kita pilih?”
Uniknya lagi Materialists tidak memberi jawaban. Film ini tidak mengatakan pilihan mana yang paling benar. Ia hanya menunjukkan bahwa setiap pilihan memiliki harga yang harus dibayar. Dan mungkin, menjadi dewasa berarti siap menanggung konsekuensi dari keputusan kita sendiri.
Namun harus diakui, ritme film ini cukup lambat. Tidak semua penonton akan nyaman dengan gaya penceritaan yang hening dan kontemplatif. Tapi bagi saya, justru di situlah keindahannya. Film ini tidak meminta perhatian dengan teriakan, melainkan dengan bisikan.
Lebih dari Sekadar Film Romantis
Pada akhirnya, Materialists bukan hanya film tentang cinta, tapi tentang nilai hidup. Tentang bagaimana kita mendefinisikan kebahagiaan, keamanan, dan keberhasilan. Tentang kompromi yang harus dibuat ketika idealisme bertemu realita.
Film ini terasa seperti obrolan jujur dengan diri sendiri, tentang ketakutan akan miskin, takut salah memilih pasangan, dan takut menyesal di masa depan. Semua itu dibungkus dalam cerita yang sederhana tapi penuh makna.
Materialists adalah film romansa yang tidak berisik, tidak dramatis, tapi sangat relevan. Ia cocok untuk penonton yang menyukai film dengan karakter kuat, dialog bermakna, dan tema kehidupan dewasa yang realistis.
Bagi saya, film ini meninggalkan rasa pahit-manis, bukan karena ceritanya sedih, tapi karena ia jujur. Jujur bahwa cinta di dunia nyata jarang hitam-putih. Jujur bahwa menjadi dewasa berarti belajar memilih, meski tidak ada pilihan yang sepenuhnya sempurna.
Jika kamu mencari film romantis yang bisa membuatmu berpikir ulang tentang cinta, uang, dan hidup, Materialists adalah tontonan yang layak diberi waktu dan perhatian.
PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan
Source image : detik.com



