Review Freedom Writers: Film Pendidikan yang Berani Bicara soal Rasisme dan Kekerasan

Review Freedom Writers

Aku menonton film ini beberapa bulan yang lalu di hari minggu malam setelah melihatnya lewat fyp di Tiktokku dan juga untuk mengurangi efek tertekan karena monday blues. Film ini mendapat rating 7.6 di IMDb, saat melihat judulnya aku tertarik dan sempat juga terbesit pemikiran: apakah ini film penulis seperti kebanyakan ya? ternyata jauh lebih dari itu.

Bagi siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah, terutama sekolah degan latar sosial yang rumit mungkin akan merasa dekat dengan film Freedom Writers. Film yang dirilis pada tahun 2007 ini bukan sekadar drama pendidikan biasa, tapi sebuah kisah penuh emosi tentang perjuangan, empati, dan kekuatan kata-kata. Dibintangi oleh Hilary Swank sebagai guru idealis bernama Erin Gruwell, Freedom Writers berhasil menyentuh banyak hati karena ceritanya terasa nyata, relevan, dan sangat manusiawi.

Gambaran Umum Film Freedom Writers

Freedom Writers diangkat dari kisah nyata Erin Gruwell dan murid-muridnya di Woodrow Wilson High School, Long Beach, California. Film ini berlatar pertengahan tahun 1990-an, saat isu rasisme, kekerasan geng, dan ketimpangan sosial masih sangat kuat di lingkungan sekolah tersebut. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ruang penuh ketegangan, prasangka, dan trauma.

Erin Gruwell adalah guru Bahasa Inggris muda yang penuh semangat. Ia datang dengan idealisme tinggi, percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup siapa pun. Ini akupun juga mempercayainya hehe😀😀😀

Sayangnya, realitas yang ia hadapi jauh dari bayangan. Murid-murid di kelasnya adalah siswa “buangan”, anak-anak dari berbagai ras dan latar belakang yang dianggap bermasalah, sulit diatur, dan tidak punya masa depan cerah oleh sistem pendidikan itu sendiri. 😭😭😭

Kelas yang Penuh Luka dan Prasangka

Salah satu kekuatan utama Freedom Writers terletak pada cara film ini menggambarkan kondisi psikologis para muridnya. Mereka bukan sekadar anak nakal tanpa alasan. Sebagian besar hidup di lingkungan keras, terbiasa dengan kekerasan, kehilangan anggota keluarga akibat perang antar geng, dan tumbuh dengan rasa takut yang konstan.

Di kelas Erin, siswa duduk berkelompok berdasarkan ras. Ada batas tak kasat mata antara kulit hitam, Latino, Asia, dan kulit putih. Bukan karena mereka ingin eksklusif, tapi karena trauma dan kebencian sudah tertanam sejak lama. Sekolah bagi mereka bukan tempat belajar, melainkan sekadar kewajiban yang harus dijalani sambil bertahan hidup.

Erin dengan cepat menyadari bahwa metode pengajaran konvensional tidak akan berhasil. Buku teks yang disediakan sekolah sama sekali tidak relevan dengan kehidupan murid-muridnya. Bahkan pihak sekolah sendiri tidak benar-benar percaya bahwa kelas tersebut layak diperjuangkan.

Perjuangan Erin Gruwell sebagai Guru

Yang membuat Freedom Writers terasa kuat adalah perjuangan Erin yang sangat manusiawi. Ia bukan guru sempurna tanpa cela. Ia sering kelelahan, frustrasi, bahkan harus menghadapi penolakan dari rekan kerja dan keluarganya sendiri. Idealismenya dianggap terlalu naif. Banyak guru senior merasa Erin “terlalu peduli” pada murid-murid yang dianggap sudah gagal.

Namun Erin tetap bertahan. Ia mulai mencari cara untuk menjangkau murid-muridnya secara emosional. Salah satu momen penting dalam film adalah ketika ia membahas isu Holocaust dan menghubungkannya dengan rasisme yang dialami para murid. Dari situ, Erin memperkenalkan buku The Diary of Anne Frank, sebuah langkah kecil yang akhirnya membuka pintu empati di kelas tersebut.

Kekuatan Menulis sebagai Terapi dan Perlawanan

Judul Freedom Writers sendiri merujuk pada aktivitas utama yang mengubah segalanya: menulis jurnal. Erin meminta murid-muridnya menuliskan pengalaman hidup mereka, tentang kekerasan, kehilangan, ketakutan, dan harapan tanpa harus menyebutkan nama jika tidak nyaman.

Menulis menjadi ruang aman bagi para murid. Di atas kertas, mereka bisa jujur tanpa takut dihakimi. Pelan-pelan, dinding pembatas di antara mereka mulai runtuh. Mereka mulai menyadari bahwa rasa sakit yang mereka alami ternyata serupa, meskipun berasal dari ras dan latar belakang berbeda.

Bagian ini terasa sangat emosional karena kita melihat transformasi karakter para murid satu per satu. Dari anak-anak yang sinis dan defensif, mereka berubah menjadi individu yang berani bermimpi. Kata-kata menjadi alat pembebasan, bukan hanya dari trauma, tapi juga dari label “anak gagal” yang selama ini melekat.

Konflik Dalam Sistem Pendidikan

Selain fokus pada hubungan guru dan murid, Freedom Writers juga mengkritik sistem pendidikan yang terkadang kaku dan tidak adil. Erin harus bekerja ekstra, bahkan mengambil pekerjaan sampingan, demi membeli buku-buku yang tidak disediakan sekolah. 

Ia juga harus berjuang agar murid-muridnya bisa tetap bersama di kelas yang sama, karena sistem ingin memisahkan mereka setelah satu tahun. Bahkan menuju akhir film di salah satu scene film juga ditampilkan erin bahkan harus melepaskan pernikahannya dan lebih memilih menjadi guru. Saat melihat scene ini aku juga ikut bertanya – tanya, pasti berat sekali jadi Erin. 😭🥺

Film ini dengan halus menunjukkan bahwa masalah pendidikan tidak selalu terletak pada murid, melainkan pada sistem yang terlalu cepat menyerah pada mereka. Pesan ini terasa relevan hingga sekarang, terutama di dunia yang masih sering mengukur kecerdasan hanya dari nilai akademis.

Akting dan Nuansa Emosional

Hilary Swank tampil sangat meyakinkan sebagai Erin Gruwell. Ia berhasil menampilkan sosok guru yang penuh empati tanpa terkesan berlebihan. Emosi yang ditampilkan terasa tulus, bukan drama kosong. Para aktor muda yang memerankan murid-muridnya juga patut diapresiasi karena berhasil membawa kisah masing-masing dengan kuat dan autentik.

Nuansa film ini cenderung hangat meskipun mengangkat tema berat. Musik, sinematografi, dan dialognya mendukung emosi tanpa terasa manipulatif. Beberapa adegan memang terasa sangat menguras perasaan, tapi justru di situlah kekuatan Freedom Writers.

Pesan Moral yang Mengena

Pada intinya, Freedom Writers adalah film tentang harapan. Tentang bagaimana satu orang yang percaya bisa membuat perubahan besar. Film ini mengingatkan kita bahwa mendengarkan sering kali lebih penting daripada mengajar, dan empati bisa menjadi jembatan paling kuat dalam pendidikan.

Film ini juga menegaskan bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak didengar. Tidak peduli seberapa “berantakan” masa lalu seseorang, selalu ada ruang untuk tumbuh dan berubah.

Freedom Writers bukan film yang menawarkan plot twist mengejutkan atau visual spektakuler. Kekuatan utamanya justru terletak pada kesederhanaan ceritanya yang jujur dan penuh makna. Film ini cocok ditonton siapa saja, guru, pelajar, orang tua, atau siapa pun yang pernah merasa diremehkan oleh sistem.

Dengan bahasa yang lugas dan emosi yang kuat, Freedom Writers mengajak kita semua untuk percaya pada kekuatan pendidikan, kata-kata, dan kemanusiaan. Sebuah film yang mungkin tidak mengubah dunia secara langsung, tapi sangat mungkin mengubah cara kita memandang orang lain.

 

 

PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan

Source image : tvinsider.com