Review Legally Blonde: Film Cewek Pirang yang Diremehkan Tapi Bikin Dunia Hukum Kaget!

Review Legally Blonde

Film Legally Blonde (2001) adalah salah satu film komedi romantis paling ikonik yang pernah ada, sepanjang film ini aku banyak tertawa dan senyum – senyum sendiri karena akting pemainnya hahahaha.  😂😂😂

Dibintangi oleh Reese Witherspoon sebagai Elle Woods, film ini lebih dari tontonan ringan tentang dunia kampus hukum. Di balik warna pink, anjing kecil lucu, dan dialog jenaka, Legally Blonde justru menyimpan pesan yang cukup dalam tentang harga diri, ambisi, dan melawan stereotip yang sudah terlanjur melekat pada seseorang.

Sejak awal film, kita langsung diperkenalkan dengan sosok Elle Woods, seorang mahasiswi fashion merchandising di UCLA yang cantik, ceria, populer, dan tampaknya “sempurna”. Dia adalah tipikal cewek yang hidupnya dikelilingi pesta, teman-teman sorority, dan lemari penuh baju pink. 

Elle punya pacar idaman bernama Warner Huntington III, pria mapan dari keluarga terpandang yang sedang bersiap masuk Harvard Law School. Namun, hidup Elle berubah drastis ketika Warner memutuskan hubungan mereka dengan alasan yang menyakitkan: Elle dianggap terlalu “pirang” dan tidak cukup serius untuk menjadi istri seorang calon politisi. 

Kalimat itu bukan cuma soal putus cinta, tapi juga penghakiman. Elle tidak dianggap cukup serius, cukup pintar, atau cukup “layak”. Bagi Warner, masa depan adalah soal citra dan status dan Elle dianggap tidak cocok dengan gambaran tersebut.

Alih-alih tenggelam dalam patah hati, Elle justru membuat keputusan gila yang mengubah hidupnya: dia akan masuk Harvard Law School juga.

Keputusan Gila yang Mengubah Segalanya

Keputusan Elle masuk Harvard Law School awalnya terdengar impulsif dan didorong oleh keinginan membuktikan diri pada Warner. Tapi seiring berjalannya cerita, tujuan itu berkembang menjadi perjalanan menemukan jati diri.

Proses Elle masuk Harvard sendiri digambarkan dengan cara yang menyenangkan tapi bermakna. Film ini menolak narasi bahwa kecerdasan hanya datang dari cara belajar yang kaku. Elle memanfaatkan gaya dan kepribadiannya sendiri, bahkan video pendaftarannya ke Harvard Law School pun penuh warna dan berbeda dari yang lain. Dan justru karena itulah dia lolos.

Setibanya di Harvard, tantangan Elle baru benar-benar dimulai. Dia diremehkan oleh dosen, dijadikan bahan ejekan oleh teman sekelas, dan terus dianggap “tidak pantas” berada di sana. Bak menjadi “ikan kecil” di kolam yang penuh ambisi dan ego. Cara berpakaian Elle, logatnya, bahkan ketertarikannya pada fashion, semuanya dijadikan bahan ejekan. Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa Elle tidak pantas berada di sana.

Namun, Legally Blonde tidak pernah menjadikan Elle sebagai korban yang pasif. Justru di sinilah kekuatan film ini: Elle tetap menjadi dirinya sendiri. Dia tidak membuang kepribadiannya demi diterima, tetapi belajar bagaimana menggabungkan kecerdasannya dengan identitasnya.

Dari Dunia Fashion ke Dunia Hukum

Keputusan Elle untuk mendaftar ke Harvard Law bukanlah hal yang mudah. Dunia hukum jelas jauh dari citra dirinya yang identik dengan high heels dan warna pink. Tapi film ini dengan cerdas menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu datang dalam bentuk yang konvensional. 

Elle belajar mati-matian, memanfaatkan keunggulannya sendiri, dan akhirnya berhasil diterima di Harvard, sebuah pencapaian yang bahkan membuat orang-orang di sekitarnya terkejut.

Film ini juga menggambarkan lingkungan akademik yang kompetitif dan penuh penghakiman tanpa terasa terlalu berat. Kita bisa melihat bagaimana Elle sering dipandang sebelah mata oleh dosen, diremehkan oleh teman sekelas, dan bahkan dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi mentor.

Namun alih-alih mengubah Elle menjadi sosok yang pahit, film ini justru menunjukkan proses pertumbuhan yang realistis. Elle sempat goyah. Dia menangis, mempertanyakan dirinya sendiri, dan hampir menyerah. Tapi momen-momen rapuh ini membuat karakternya terasa manusiawi.

Perlahan, Elle mulai menemukan ritmenya sendiri. Dia belajar lebih keras, mulai memahami hukum secara mendalam, dan yang paling penting: dia belajar percaya pada kemampuannya sendiri. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya mulai melihat bahwa Elle bukan sekadar “cewek pirang”.

Pesan Feminisme yang Ringan tapi Kena

Meskipun dibungkus dengan komedi dan nuansa cerah, Legally Blonde sebenarnya membawa pesan feminisme yang cukup kuat, terutama di zamannya. Film ini menantang anggapan bahwa perempuan harus memilih antara cantik atau pintar. Elle Woods membuktikan bahwa seseorang bisa menyukai fashion, berdandan, dan tetap memiliki otak yang cerdass.  🔥🔥🔥

Karakter Elle juga menunjukkan bahwa empati adalah bentuk kecerdasan. Dalam salah satu adegan ikonik di ruang sidang, Elle memecahkan kasus bukan karena hafalan hukum semata, tetapi karena pemahamannya terhadap kebiasaan perempuan dan dunia kecantikan, sesuatu yang selama ini dianggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya.

Film ini seakan berkata: apa yang sering dianggap “tidak penting” justru bisa menjadi kekuatan, jika kita tahu cara menggunakannya.

Ada salah satu scene yang menyampaikan jangan remehkan apa yang kamu anggap “terlalu feminin”, karena justru di situlah kekuatanmu.

Relasi Antara Perempuan yang Sehat

Hal lain yang membuat Legally Blonde terasa menyenangkan adalah cara film ini menggambarkan hubungan antartokoh perempuan. Elle tidak digambarkan sebagai sosok yang menjatuhkan perempuan lain demi terlihat unggul. Justru sebaliknya, dia membantu Paulette menemukan kepercayaan diri, dan bahkan akhirnya menjalin hubungan yang sehat dengan Vivian, yang awalnya menjadi rivalnya.

Perubahan Vivian dari sosok dingin menjadi teman yang menghargai Elle terasa natural dan dewasa. Film ini menunjukkan bahwa kompetisi antarperempuan sering kali dibentuk oleh sistem, bukan karena sifat alami mereka.

Kenapa Film Ini Selalu Terasa Relevan Buat Aku

Jujur, Legally Blonde adalah salah satu film yang selalu bikin aku merasa lebih percaya diri setelah menontonnya. Terutama di saat aku merasa diremehkan atau dianggap “tidak cukup” hanya karena tampil atau berpikir berbeda.

Setiap kali aku meragukan diri sendiri, aku kepikiran bagaiamana si Elle Woods ini dengan caranya menghadapi dunia yang terus meremehkan dia.

Sebagai penonton, aku merasa film ini punya energi yang sangat “menguatkan”. Elle bukan karakter yang berubah menjadi dingin atau keras demi membuktikan dirinya. Dia tetap ceria, baik, dan penuh empati dan justru itu yang membuatnya kuat. Buat aku pribadi, ini pesan yang jarang ditemukan: bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan.

Aku juga suka bagaimana film ini tidak mengagungkan balas dendam. Tujuan Elle memang awalnya untuk membuktikan diri ke Warner, tapi di akhir cerita, motivasinya berubah. Dia tidak lagi mengejar pengakuan dari orang lain. Dia mengejar versinya sendiri tentang kesuksesan. Dan itu, menurutku, adalah bentuk kemenangan yang paling dewasa.

Secara visual, Legally Blonde juga sangat menyenangkan. Warna-warna cerah, kostum ikonik, dan soundtrack yang catchy bikin film ini terasa ringan, bahkan saat membahas dunia hukum yang sebenarnya cukup berat. Rasanya seperti diingatkan bahwa belajar dan berkembang tidak harus selalu menyiksa.

Kalau ada satu hal yang paling aku ingat dari film ini, itu adalah bagaimana Elle berdiri di ruang sidang dengan percaya diri, mengenakan pakaian yang tetap “dia banget”, dan membuktikan bahwa semua orang yang meremehkannya salah. Adegan itu selalu bikin aku senyum sendiri.

Legally Blonde bukan hanya film komedi romantis biasa. Ini adalah cerita tentang menemukan kekuatan dalam diri sendiri, tentang melawan stereotip, dan tentang berani percaya bahwa kita layak berada di ruang yang selama ini terasa “bukan tempat kita”.

Dengan narasi yang ringan, humor yang cerdas, dan karakter utama yang ikonik, film ini tetap relevan bahkan bertahun-tahun setelah rilis. Bagi aku, Legally Blonde adalah pengingat bahwa menjadi diri sendiri sepenuhnya, tanpa malu adalah bentuk keberanian terbesar. 😎😎😎

Dan ya, kadang dunia memang meremehkan orang berdasarkan penampilan. Tapi seperti yang ditunjukkan Elle Woods, jangan pernah biarkan itu menentukan seberapa jauh kamu bisa melangkah. Bahkan warna pink dan otak tajam bisa berjalan berdampingan dengan sangat elegan.


PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan

Source image : liputan6.com