Aku dapat ide menonton film ini setelah ya direkomendasikan juga oleh salah satu akun sosmed yang tak ikuti, Jujur saja, pertama kali aku nonton Jawbreaker, ekspektasiku nggak terlalu tinggi.
Kupikir ini cuma film remaja jadul ala akhir 90-an, tentang cewek-cewek populer dan kadang sedikit problematik wkwkwk, drama sekolah, dan konflik khas anak SMA. Tapi ternyata aku salah besar. Jawbreaker bukan sekadar film teen biasa. Ia gelap, sinis, dan cukup berani untuk ukuran film remaja di masanya.
Film ini seperti senyum manis yang ternyata menyimpan racun. Dari luar terlihat penuh warna, fashionable, dan glamor, tapi begitu ceritanya berjalan, semuanya terasa semakin dingin dan kejam.
Prank yang Berubah Jadi Tragedi
Daftar Isi Artikel
ToggleCerita dimulai dengan tiga gadis paling berkuasa di Reagan High School: Courtney, Marcie, dan Julie. Mereka bukan sekadar populer, mereka adalah pusat semesta sekolah. Semua orang mengenal mereka, membicarakan mereka, dan diam-diam takut pada mereka.
Di ulang tahun sahabat mereka, Liz, trio ini merencanakan sebuah prank: menculik Liz di pagi hari sebagai kejutan. Mulut Liz disumpal dengan permen jawbreaker raksasa agar ia tak berteriak. Akupun juga akhirnya mencari tahu di internet tentang permen ini dan apakah dijual di Indonesia, ternyata tidak jual di Indonesia hanya ada di Amerika saja hahahaha 😅😅😅
Dari prank yang niat awalnya cuma bercanda. Di sinilah semuanya runtuh. Liz tersedak dan meninggal dunia. Sebagai penonton, aku langsung merasa nggak nyaman. Bukan karena adegannya eksplisit, tapi karena film ini dengan cepat memaksa kita menghadapi satu kenyataan pahit: sesuatu yang dimulai sebagai lelucon bisa berubah jadi kesalahan FATAL yang nggak bisa ditarik kembali.
Courtney: Karakter yang Bikin Kagum Sekaligus Ngeri
Dari semua karakter, Courtney jelas yang paling mencuri perhatian. Diperankan oleh Rose McGowan, ia tampil begitu dominan dan percaya diri sampai rasanya sulit untuk mengalihkan pandangan. Sebagai penonton, aku antara kagum dan takut melihatnya.
Courtney adalah contoh ekstrem dari seseorang yang terlalu terbiasa memegang kendali. Alih-alih panik karena kematian Liz, ia langsung berpikir strategis: bagaimana cara menutupinya, bagaimana cara menghilangkan jejak, mempertahankan status mereka, dan bagaimana memastikan dirinya tetap berada di puncak hierarki sosial. Betul – betul aura dark alpha woman yang kejam sekaliiii 😭🥺😭🥺
Yang bikin lebih merinding, di film ini, Courtney tidak terlihat seperti “penjahat” klasik. Ia tenang, logis, dan meyakinkan. Dan justru di situlah bahayanya. Film ini seakan ingin menunjukkan bahwa kejahatan nggak selalu datang dengan wajah menyeramkan, kadang ia datang dengan senyum cantik dan outfit mahal. 😔
Julie dan Rasa Bersalah yang Terus Menghantui
Berbeda dengan Courtney, Julie adalah karakter yang paling mudah membuatku simpati. Ia jelas tidak siap menghadapi konsekuensi dari prank tersebut. Rasa bersalahnya terasa nyata dan manusiawi.
Julie adalah representasi dari hati nurani dalam film ini. Setiap kali ia muncul, aku bisa merasakan konflik batin yang ia alami. Ia tahu apa yang mereka lakukan salah, dan ia tahu kebohongan itu hanya akan memperburuk keadaan. Tapi di sisi lain, ia juga takut, akut kehilangan segalanya, takut pada Courtney, dan takut menghadapi kebenaran.
Buatku, Julie adalah karakter yang paling “hidup”. Ia membuat Jawbreaker terasa lebih dari sekadar satire gelap, tapi juga drama psikologis tentang tekanan dan rasa bersalah.
Dunia SMA yang Lebih Kejam dari yang Kita Ingat
Salah satu hal yang paling aku suka dari Jawbreaker adalah cara film ini menggambarkan dunia SMA. Tidak romantis, tidak manis, dan jauh dari nostalgia indah. Di sini, SMA adalah arena sosial yang brutal.
Popularitas digambarkan sebagai mata uang. Siapa yang punya pengaruh, dialah yang berkuasa. Courtney memanfaatkan kematian Liz untuk membangun citra dirinya, mengambil alih posisi Liz sebagai “ikon kebaikan”, dan memperkuat dominasinya di sekolah.
Sebagai penonton dewasa, aku merasa film ini cukup jujur. Banyak dari kita mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami, bagaimana status sosial di sekolah bisa membuat seseorang diperlakukan seperti raja, sementara yang lain diinjak-injak tanpa ampun. 😭🥺
Bahkan diakhir film pun julie menyampaikan: what’s the friend anyway? and I be like, Sist I feel you.
Estetika Cerah dengan Jiwa yang Gelap
Secara visual, Jawbreaker benar-benar khas 90-an. Warna-warna cerah, busana mencolok, makeup bold, dan soundtrack yang terasa rebel. Tapi yang menarik, semua itu justru dipakai untuk mengiringi cerita yang kelam.
Kontras ini menurutku disengaja dan efektif. Semakin cerah tampilannya, semakin terasa ironis ketika kita tahu betapa busuknya rahasia yang disimpan para karakter. Aku suka bagaimana film ini seolah berkata, “Jangan tertipu oleh penampilan.”
Fashion di film ini bukan cuma pemanis, tapi juga alat narasi. Courtney selalu tampil sempurna, seolah menegaskan bahwa selama ia terlihat baik-baik saja, dunia akan mempercayainya.
Rahasia yang Perlahan Retak
Seiring cerita berjalan, tekanan makin terasa. Kebohongan demi kebohongan harus terus ditumpuk. Setiap karakter mulai menunjukkan retakan emosional. Julie makin tertekan, Marcie makin tidak stabil, dan Courtney yang makin hari makin kejam.
Sebagai penonton, aku merasa tegang bukan karena takut pada jumpscare, tapi karena menunggu kapan semuanya akan runtuh. Film ini pintar membangun ketegangan lewat dialog, tatapan, dan konflik kecil yang terasa semakin berat.
Dan seperti yang bisa ditebak, rahasia sebesar ini tidak mungkin selamanya aman.
Kalau ditanya apakah Jawbreaker film yang “menyenangkan”, jawabanku: tidak sepenuhnya. Tapi justru itu yang bikin film ini berkesan. Ia tidak berusaha membuat penontonnya nyaman. Ia ingin membuat kita berpikir.
Sebagai penonton, aku merasa film ini berani, terutama karena fokusnya pada karakter perempuan yang kompleks, bukan sekadar korban atau pemanis cerita. Mereka egois, ambisius, rapuh, dan kejam. Dan semuanya terasa manusiawi.
Jawbreaker juga terasa seperti kritik terhadap budaya yang mengagungkan popularitas tanpa peduli harga yang harus dibayar. Sebuah tema yang, jujur saja, masih sangat relevan sampai sekarang.🥺♡
Buatku, ini bukan film untuk semua orang. Kalau kamu suka cerita dengan karakter kuat, konflik psikologis, dan kritik sosial yang tajam, Jawbreaker adalah tontonan yang layak diapresiasi. Dan setelah menontonnya, satu hal yang tertinggal di kepalaku adalah ini:
Popularitas mungkin sementara, tapi konsekuensi dari pilihan buruk bisa menghantui seumur hidup.Lagipula, apa itu teman?
PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan
Source image : ndsmcobserver.com


