Keknya sudah lama banget gk ngeblog di blog sendiri hahahaha, ya karena kesibukan juga đ đ đ đ Jadi sabtu kemarin karena aku bosan aku iseng banget daftar acara Film Screening And Discussion By AlterCop Indonesia, Nah Film yang ditonton dan di diskusikan adalah Breaking Boundaries, Film Dokumenter yang Bikin Aku dan beberapa hadirin pasti berpikir ulang tentang Bumi.
Film dokumenter yang bukan cuma menyajikan gambar-gambar indah alam semesta, tapi juga tamparan halus (dan kadang keras) tentang realitas krisis lingkungan yang sedang kita hadapi.
Film ini dirilis pada tahun 2021 di platform Netflix, berdurasi 1 jam 13 menit dan disutradarai oleh Jon Clay. Yang bikin film ini istimewa adalah kolaborasinya dengan dua sosok besar di dunia lingkungan hidup: Sir David Attenborough, sang narator legendaris yang suaranya sudah jadi ikon di dunia dokumenter alam, dan Dr. Johan Rockström, seorang ilmuwan lingkungan asal Swedia yang sudah puluhan tahun meneliti tentang batas-batas planet (planetary boundaries). Mereka bersama – sama mengajak penonton untuk âmelihatâ dunia bukan sekadar dari indahnya hutan atau megahnya lautan, tapi dari sisi ilmiah tentang seberapa jauh manusia telah mendorong Bumi menuju titik kritis.
Sir David Attenborough segera membawa penonton pada kenyataan pahit: planet yang kita tempati sedang menuju krisis terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Narasi lembutnya membimbing kita untuk memahami konsep “planetary boundaries” atau batas-batas planet suatu sistem ilmiah yang menjelaskan sembilan batas penting bagi stabilitas Bumi. Johan Rockström, ilmuwan asal Swedia dan Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research, menjelaskan bahwa manusia telah melampaui beberapa dari batas itu. Film ini menggambarkan 9 batas planet tersebut, yakni:
- Perubahan iklim
- Keanekaragaman hayati
- Pergeseran siklus biogeokimia (seperti nitrogen dan fosfor)
- Penggunaan lahan
- Pengasaman laut
- Air tawar
- Lapisan ozon
- Aerosol di atmosfer
- Pencemaran kimia baru
Nah, dalam film ini, ia mengungkapkan kenyataan pahit: beberapa batas itu sudah dilanggar oleh manusia. Kita sudah terlalu banyak menebang hutan, membakar bahan bakar fosil, membuang limbah industri ke sungai dan laut, serta memproduksi makanan secara berlebihan dengan sistem yang tidak berkelanjutan. Akibatnya, Bumi kini berada dalam kondisi âtidak seimbang.â Dalam istilah yang lebih sederhana, planet kita mulai demam.
Yang menarik sepanjang film ini menurutku, Rockström dan Attenborough tidak menyajikan semua ini dengan nada menyalahkan. Mereka berbicara dengan data dan cara yang penuh empati, seperti seorang teman yang sedang mengingatkan dengan lembut:Â
âLihatlah, kita sudah terlalu jauh, tapi belum terlambat untuk memperbaikinya.â
Visual yang Sangat Indah tapi Menyakitkan
Daftar Isi Artikel
ToggleSeperti dokumenter Attenborough lainnya, Breaking Boundaries dikemas dengan visual yang luar biasa indah. Setiap frame terasa seperti lukisan: hutan Amazon yang hijau dan lembap, lautan biru jernih, pegunungan es di kutub yang memantulkan cahaya matahari serta gambar-gambar bumi dari luar angkasa, semuanya ditampilkan dengan kualitas sinematik yang luar biasa.
Namun, di balik keindahan itu, film ini memperlihatkan kenyataan pahit. Karang-karang laut yang memutih karena pemanasan global dan menjadi kuburan karang, hutan yang gundul karena deforestasi, hingga gletser di Kutub Utara yang mencair dengan cepat. Semua gambar itu membuat kita sadar bahwa Bumi memang menakjubkan, tapi juga sedang menderita.
Ada satu momen di film yang cukup mengejutkanku: ketika visual kebakaran hutan terbesar di Autralia muncul, jutaan hektar lahan terbakar dan diperkirakan satu miliar hewan asli terbunuh lalu disandingkan dengan grafik ilmiah yang menunjukkan kenaikan suhu global. Di situ, terasa jelas bahwa film ini bukan hanya tentang pemandangan alam, tapi tentang cerita perubahan, dan bagaimana setiap tindakan manusia memiliki dampak yang nyata.
Bahkan ada salah satu cuplikan di filmnya yang berbicara: para ilmuwan sudah bisa memprediksi tentang kebakaran hutan ini dengan sains tapi mereka seringkali tidak didengarkan.
Sir David Attenborough: Suara yang Menenangkan di Tengah Krisis
Bagi sebagaian orang, termasuk aku mendengar suara David Attenborough dalam film dokumenter adalah seperti mendengar kakek bijak yang sedang bercerita. Nada bicaranya lembut, tenang, tapi penuh makna. Dalam Breaking Boundaries, suaranya menjadi jembatan antara penonton dan sains yang kadang terasa kompleks.
Attenborough bukan sekadar membaca naskah. Ia berbicara dari pengalaman. Ia telah melihat beberapa dekade terakhir dengan matanya sendiri bagaimana dunia berubah, bagaimana spesies punah, es mencair, dan hutan menyusut. Suaranya dalam film ini seolah berkata: âAku sudah melihat semuanya, dan aku ingin kamu melihatnya juga, agar kita bisa berubah bersama.â
Narasinya membuat film ini terasa personal. Seolah-olah ia sedang berbicara langsung kepadamu, bukan ke jutaan penonton di seluruh dunia. Dan justru di situlah kekuatan Breaking Boundaries, ia membuat isu global terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
Johan Rockström: Ilmuwan yang Membumikan Ilmu
Di sisi lain, Dr. Johan Rockström tampil sebagai figur ilmuwan yang bukan hanya ahli di bidangnya, tapi juga komunikatif. Ia menjelaskan konsep yang rumit dengan analogi sederhana. Misalnya, ia menggambarkan Bumi seperti tubuh manusia, jika satu organ rusak, organ lain bisa ikut terganggu.
Lewat pendekatan ini, penonton jadi lebih mudah memahami bahwa isu lingkungan bukan sekadar soal âpohon ditebangâ atau âes mencair,â tapi soal keseimbangan ekosistem yang saling terhubung.
Ketika satu batas dilanggar, batas lainnya ikut terguncang. Misalnya, ketika hutan ditebang, karbon dioksida meningkat, suhu naik, laut menghangat, dan ekosistem laut pun terganggu. Efek domino inilah yang menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan hidup di Bumi.
Rockström juga menekankan pentingnya tindakan kolektif. Bukan cuma tugas pemerintah atau lembaga besar, tapi juga setiap individu. Dari cara kita mengonsumsi makanan, memilih energi, hingga membuang sampah, semuanya punya efek yang saling berkaitan.
Antara Harapan dan Kenyataan
Meskipun banyak bagian film ini yang terasa menyayat hati, Breaking Boundaries tidak hanya ingin membuat penonton takut atau sedih. Film ini justru ingin menumbuhkan kesadaran dan harapan.
Attenborough mengatakan bahwa âkita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya.â Tapi waktu itu tidak banyak. Setiap tahun yang terlewati tanpa tindakan nyata akan membuat peluang kita semakin kecil.
Film ini kemudian menunjukkan berbagai langkah yang bisa diambil:
- Beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
- Mengurangi konsumsi daging merah dan beralih ke pola makan nabati.
- Mengelola hutan dan laut dengan lebih bijak.
- Mendorong kebijakan global yang berpihak pada keberlanjutan.
Dan yang paling penting, mengubah cara kita berpikir, bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan planet ini.
Refleksi: Saat Film Menjadi Cermin Kehidupan
Aku melihat sekelilingku banyak penonton mengaku merasa tersentuh, menangis, beberapa merasa bersalah, beberapa merasa terinspirasi, tapi hampir semuanya sepakat: film ini membuat mereka melihat dunia dengan cara baru.
Dalam satu adegan, Attenborough berdiri di tengah hutan tropis sambil berkata, âKita adalah generasi pertama yang benar-benar memahami batas planet ini, dan mungkin generasi terakhir yang masih punya kesempatan untuk menjaganya.â Kalimat itu benar – benar menyesakkan.
Kamu mungkin akan mulai berpikir dua kali sebelum membeli produk sekali pakai. Atau mungkin kamu jadi lebih menghargai air, udara, dan makanan yang kamu konsumsi setiap hari. Film ini mengubah cara kita memahami keseimbangan hidup, bahwa segala sesuatu yang kita nikmati di dunia modern ternyata punya harga yang sedang dibayar oleh alam.
Bagian akhir filmnya mengalir dengan nada yang lebih optimistis. Rockström dan para ilmuwan menegaskan bahwa kita tidak sedang kehabisan waktu, tetapi waktu kita memang sangat terbatas. Mereka menunjukkan contoh solusi nyata: energi terbarukan, restorasi hutan, pertanian berkelanjutan, hingga pengurangan limbah plastik.
Salah satu momen paling inspiratif adalah ketika film ini menunjukkan proyek restorasi terumbu karang dan hutan bakau yang berhasil mengembalikan ekosistem laut di beberapa wilayah. Adegan itu seakan menegaskan pesan utama film: bahwa perubahan masih mungkin terjadi, asal ada kemauan kolektif dari manusia untuk bertindak.
Breaking Boundaries: The Science of Our Planet bukan sekadar film dokumenter tentang alam. Ia adalah cerita tentang manusia dan rumahnya sendiri. Tentang bagaimana kita membangun dunia modern, tapi tanpa sadar sedang menghancurkan fondasinya.
Namun di balik semua kekhawatiran itu, film ini tetap penuh harapan. Attenborough dan Rockström percaya bahwa manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan memperbaiki kesalahan. Syaratnya hanya satu: kita harus sadar dulu, sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Ya, setelah menonton film ini, kita tidak langsung menjadi aktivis lingkungan, tapi kita bisa mulai melakukan hal-hal kecil, mengurangi plastik, hemat listrik, atau menanam pohon. Dan dari hal-hal kecil seperti itulah, perubahan besar bisa terjadi.
Karena pada akhirnya, Breaking Boundaries bukan hanya film yang ingin kamu tonton sekali, tapi pesan yang ingin kamu bawa seumur hidup:
Bahwa Bumi tidak butuh kita untuk bertahanâkitalah yang butuh Bumi untuk hidup.
PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahanÂ
Source image : virgin.com



