
Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) merayakan satu dekade dalam mempromosikan film-film Australia dan Indonesia, dengan kehadirannya kembali dari 15 Mei hingga 14 Juni 2025. Festival ini menampilkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia kepada penonton di sepuluh kota di Indonesia – Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Padang, Surabaya, Semarang, Denpasar, Mataram, Manado, dan Makassar.
Aku termasuk salah satu peserta yang mendaftar ke acara Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) dan ya setelah mendapat tiketnya, tepatnya kemarin hari sabtu 17 – 05 – 2025, Akhirnya bisa juga nonton The Lost Tiger, yang merupakan film animasi petualangan asal Australia yang dirilis pada 27 Februari 2025. Disutradarai oleh Chantelle Murray.
Jujur pertama kali menonton film The lost tiger ini rasanya sangat menyenangkan dan seru sekali ada banyak makna dan pelajaran hidup yang bisa dipelajari. 🙂🙂🙂
Film ini berhasil memadukan kisah fantasi dengan pesan mendalam tentang jati diri dan koneksi dengan warisan budaya, sesuatu yang jarang ditemukan dalam film anak-anak maupun film keluarga masa kini 🙁
Bercerita Teo, seekor thylacine (harimau Tasmania) yang diyakini telah punah, ditemukan terlantar dengan kalung kristal misterius dan diadopsi oleh keluarga kanguru yang berprofesi sebagai pegulat keliling. Meskipun dibesarkan dengan penuh kasih, Teo selalu merasa berbeda dan tidak tahu siapa dirinya sebenarnya. Menjadi cermin bagi siapa saja yang merasa terasing atau bertanya-tanya tentang asal-usulnya ataupun kerinduan akan suatu tempat yang disebut rumah.
Sejak awal cerita, penonton langsung diajak masuk ke dalam dunia Teo—seekor kangguru muda yang dibesarkan dengan penuh kasih oleh orang tua angkatnya, namun selalu merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Meski hidup dalam lingkungan yang penuh cinta, Teo merasa asing dan belum benar-benar memahami siapa dirinya. Ia merasa belum menemukan tempat yang bisa disebut “rumah”.
Segalanya mulai berubah ketika Teo mengalami penglihatan aneh yang membawanya memulai perjalanan penuh petualangan. Bersama Plato, seekor platipus dengan semangat menjelajah yang tinggi, Teo memulai misi untuk menemukan “Pulau Harimau” yang misterius—tempat yang dipercaya menyimpan kunci asal-usul dirinya.
Petualangan Teo bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan emosional yang menggambarkan pencarian identitas dan makna keberadaan. Kisah dalam film ini menjadi simbol kuat akan upaya seseorang mencari jati diri dan tempat yang benar-benar bisa dianggap orang sebagai “rumah”.
Tokoh-tokoh dalam film ini, terutama Teo dan Plato sangat mudah disukai, begitu memikat. Karakter mereka yang imut dan lucu namun menyentuh menyampaikan pesan-pesan moral tentang keberanian, arti penting persahabatan, serta nilai menjadi diri sendiri. Di sisi lain, tokoh antagonis seperti Quinella Quoll hadir sebagai representasi dari kritik sosial terhadap dominasi budaya dan eksploitasi terhadap sesuatu yang seharusnya dilestarikan. Pesan ini disampaikan secara halus namun kuat melalui alur cerita yang cocok untuk anak-anak.
“The Lost Tiger” adalah tontonan yang bisa dinikmati semua kalangan—baik anak-anak, remaja berusia 27 tahun seperti aku hehehe 🙂🙂🙂 maupun orang dewasa.
Anak-anak akan larut dalam kisah seru penuh petualangan dan humor, sementara penonton dewasa dapat menemukan refleksi mendalam tentang budaya, eksistensi, dan sejarah yang terlupakan. Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga menyentuh sisi spiritual dan emosional tanpa kehilangan unsur hiburan komersialnya.
Secara keseluruhan, “The Lost Tiger” menunjukkan bagaimana film animasi mampu menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan cerita lokal dengan nilai universal. Ini adalah bukti bahwa film anak-anak bisa bermakna dalam, membuka ruang empati, perenungan, serta penghargaan terhadap keragaman budaya.
Source featured Image : (Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)



