Ada beberapa film yang rasanya seperti mimpi. Tidak benar-benar jelas, kadang berantakan, kadang random, tapi entah kenapa setelah selesai malah terus teringat di kepala. Chungking Express adalah salah satu film seperti itu.
Awal aku tahu film ini, tepatnya di sabtu malam minggu yang membosankan seperti biasanya, malam itu ajakan nobar datang dari salah satu temanku, entah kenapa aku yang sedang sakit pinggang selama sebulan ini dan dua kali ke dokter karena rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lol aku mengiyakan saja ajakannya.
Aku sempat membaca review terkait film ini di google banyak yang bilang “Film karya Wong Kar-wai ini bukan sekadar film romantis biasa, melainkan sebuah perjalanan emosional tentang kesepian, kehilangan, harapan kecil, dan orang-orang yang mencoba bertahan di tengah kota yang terus bergerak terlalu cepat.” Saat itu yang terlintas di otakku sepertinya filmnya bagus dan menarik. 🤣🤣🤣
Dari awal menonton, Chungking Express sudah terasa berbeda. Hahaha, aku menahan rasa sakit pinggang sembari berusaha menikmati alur cerita di filmnya (ya, harap maklum memang pemulihannya lama kata dokternya) Film ini seperti tidak peduli dengan aturan klasik tentang bagaimana cerita harus berjalan rapi. 🤪
Alurnya terasa bebas, kadang kacau, kadang melompat begitu saja, tapi justru di situlah daya tariknya. Film ini seperti menangkap hidup apa adanya: yang kadang tidak selalu jelas, tidak selalu teratur, dan sering kali penuh pertemuan-pertemuan aneh yang datang tanpa alasan.
Film ini terbagi menjadi dua cerita yang sebenarnya berbeda, tetapi punya benang merah yang sama: tentang orang-orang kesepian yang mencoba mencari koneksi di tengah keramaian Hong Kong. Kota dalam film ini terasa hidup, sibuk, penuh lampu neon, suara, dan orang-orang yang lalu-lalang tanpa henti. Tapi di balik semua keramaian itu, para karakternya justru terasa sangat sendiri.
Dan mungkin itu yang disampaikan oleh film ini. Kadang seseorang bisa berada di tengah kota yang ramai, dikelilingi banyak orang, tapi tetap merasa sendirian.
Cerita Pertama: Polisi 223 dan Perempuan Berwig Pirang
Daftar Isi Artikel
ToggleCerita pertama berfokus pada seorang polisi muda bernama He Qiwu atau Polisi 223 yang baru saja putus dari pacarnya, May. Ia tidak bisa move on dan terus memikirkan hubungan mereka yang sudah berakhir. Dengan cara yang aneh sekaligus menyedihkan, ia membeli kaleng nanas dengan tanggal kedaluwarsa 1 Mei setiap hari, berharap sebelum tanggal itu tiba pacarnya akan kembali.
Adegannya menggambarkan ada rasa putus asa kecil di situ. Rasanya seperti seseorang yang tahu semuanya sudah selesai, tapi tetap berharap sedikit keajaiban datang sebelum waktunya habis.
Ya, kita semua disini percaya hal kecil seperti itu mungkin terdengar konyol dan sangat tidak dewasa, tapi justru di situlah kekuatan film ini. Wong Kar-wai sangat pintar mengubah tindakan sederhana menjadi sesuatu yang emosional.
Kadang saat seseorang kehilangan, dia memang akan menggantungkan harapan pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak masuk akal. Dari sekadar membeli kaleng nanas, kita juga bisa merasakan bagaimana seseorang mencoba bertahan dari rasa kehilangan. 😢😢😢
Polisi 223 terlihat seperti pria biasa yang berusaha santai, tapi sebenarnya ia sedang kesepian dan tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaannya. 😭
Di sisi lain, ada seorang perempuan misterius berwig pirang yang bekerja di dunia kriminal sebagai bandar narkoba, sepertinya. Hidupnya berantakan, penuh tekanan, dan terasa dingin. Ia tampak kuat dari luar, tetapi sebenarnya sama lelahnya dengan Polisi 223.
Pertemuan mereka berdua terjadi secara kebetulan, singkat, dan aneh. Tidak ada kisah cinta besar di antara mereka, tapi justru hubungan singkat itu terasa begitu manusiawi.
Mereka hanya dua orang asing yang sama-sama lelah, lalu bertemu di malam yang salah di kota yang terlalu ramai. Dan kadang hidup memang seperti itu. Tidak ada hubungan romantis yang jelas dan tidak semua hubungan harus menjadi cinta besar. Ada orang-orang yang datang hanya untuk menemani kita melewati satu malam yang berat. 😔
Hey, andrew aku harap kamu tidak terus bertemu orang random di luar sana and ended situationship. I mean, your life is heavy, bro, and you make it twice as heavy by meeting random people outside. kata temanku dengan tertawa. 😂😂
Oh, come on at least I know their character. Kataku lagi sembari menahan sakit pinggang ini wkwkwk 😅😅
Cerita Kedua: Polisi 663 dan Faye
Kalau cerita pertama terasa lebih gelap dan sunyi, cerita kedua punya energi yang sedikit lebih ringan. Tapi di balik itu, rasa melankolisnya tetap ada.
Cerita kedua fokus pada Polisi 663 yang sedang patah hati setelah ditinggalkan pacarnya, seorang pramugari. Dia sering datang ke sebuah restoran kecil, lalu bertemu Faye, pegawai restoran yang ceroboh, aneh, dan seperti hidup di dunianya sendiri.
Faye adalah tipe karakter yang kelihatannya penuh energi. Dia sering memutar musik keras-keras, bergerak sesukanya, dan melakukan hal-hal random yang tidak terduga. Tapi semakin lama melihatnya, aku merasa semua tingkah aneh itu seperti cara dia melawan kesepian. Seperti seseorang yang terus bergerak supaya pikirannya tidak sempat diam terlalu lama.
Di film diceritakan, Faye langsung tertarik pada Polisi 663, tapi caranya mendekati pria itu benar-benar tidak biasa. Ia diam-diam masuk ke apartemen Polisi 663 menggunakan kunci yang didapat dari mantan pacarnya, lalu mulai “mengubah” hidupnya sedikit demi sedikit. Ia membersihkan rumahnya, mengganti barang-barangnya, bahkan memutar musik keras-keras sambil menari sendirian.
Kalau dipikir secara logika, apa yang dilakukan Faye memang aneh. Tapi Wong Kar-wai membuat semuanya terasa ajaib dan penuh pesona. Faye bukan sekadar karakter perempuan ceria biasa. 😁
Ia seperti simbol harapan kecil di tengah hidup yang monoton dan sepi. Di saat Polisi 663 sibuk berpura-pura baik-baik saja, Faye masuk diam-diam dan perlahan menghidupkan kembali ruang yang kosong dalam hidupnya.
Hubungan mereka terasa manis, awkward, dan sangat natural. Tidak ada drama besar, tapi justru karena sederhana itulah hubungan mereka terasa hidup. Ada banyak momen kecil di antara mereka yang terasa lebih romantis daripada adegan cinta besar di film lain. 😁
Entah, kenapa temanku tiba-tiba dengan isengnya nyeletuk “Kamu tidak bisa sembarangan masuk ke apartemen orang OMG, ini faye sudah melanggar hak privasi sekaligus stalking too much”. 🥺🥺🥺
Ya, mungkin dia bulol dan terkadang cinta memang sesederhana itu. Bukan tentang sesuatu yang besar, tapi tentang seseorang yang membuat hari terasa sedikit tidak terlalu sepi. Jawabku lagi dengan agak malas hahaha.
Hong Kong dalam Film Ini Terasa Ramai, Tapi Sangat Kesepian
Salah satu hal yang paling membekas dari Chungking Express adalah bagaimana kota Hong Kong digambarkan di film ini. Kota ini terasa sibuk, penuh cahaya, penuh suara, dan seperti tidak pernah tidur. Kamera Wong Kar-wai menangkap jalan-jalan sempit, restoran kecil, lorong, keramaian malam, dan orang-orang yang terus bergerak tanpa berhenti.
Tapi semakin lama melihat semua itu, justru muncul rasa kosong yang aneh.
Film ini seperti ingin bilang kalau kota besar seperti Hongkong atau Jakarta sering kali membuat manusia semakin kesepian. Semua orang berjalan cepat, semua orang sibuk dengan hidupnya sendiri, dan kadang seseorang bisa menghilang begitu saja tanpa benar-benar diperhatikan siapa pun.
Ada rasa lelah yang terasa di sepanjang film. Lelah karena terus menjalani rutinitas. Lelah karena mencoba melupakan seseorang. Lelah karena harus terlihat baik-baik saja. Dan menurutku, Wong Kar-wai berhasil menangkap perasaan itu dengan sangat indah.
Visual dan Musik yang Ikonik
Secara visual, Chungking Express benar-benar khas Wong Kar-wai. Kamera handheld yang terasa liar, slow motion, lampu neon, warna-warna hangat, dan gambar yang kadang blur membuat film ini terasa seperti mimpi yang berantakan tapi indah. Ada energi chaos dalam film ini, tapi chaos yang artistik.
Banyak adegan di film ini terasa seperti mimpi tengah malam. Kadang cepat, kadang lambat, kadang terasa nyata, kadang terasa seperti ingatan yang samar. Beberapa adegan juga terasa seperti video musik, terutama karena penggunaan soundtrack yang sangat kuat.
Lagu California Dreamin’ dari The Mamas & The Papas menjadi salah satu elemen paling ikonik di film ini. Lagu itu diputar berulang-ulang oleh Faye, dan anehnya semakin sering terdengar, semakin terasa emosional.
Musik dalam film ini bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi bagian dari suasana hati para karakter. Kadang ceria, kadang melankolis, kadang terasa kosong. Dan itu membuat pengalaman menonton Chungking Express terasa sangat personal.
Film Tentang Orang-Orang yang Tidak Tahu Harus Pergi ke Mana
Kalau aku bicara jujur, Chungking Express adalah film yang bikin aku merasa aneh setelah selesai menontonnya. Bukan sedih yang langsung bikin nangis, tapi sedih yang pelan-pelan tinggal di kepala.
Rasanya seperti berjalan sendirian malam-malam sambil mendengarkan musik dan memikirkan orang-orang yang pernah datang lalu pergi begitu saja. 😢😢😢
Awalnya aku sempat merasa film ini random banget. Ceritanya seperti melompat ke mana-mana, dialognya kadang aneh, gambarnya blur di beberapa scene dan banyak hal terasa tidak jelas. Tapi semakin lama aku menonton, semakin aku merasa film ini justru sangat jujur tentang hidup.
Karena hidup memang kadang terasa random. Orang datang tanpa alasan yang jelas, ended situationship lalu pergi begitu saja. Ada hubungan yang cuma bertahan sebentar tapi membekas lama. Ada orang yang kelihatannya ceria padahal sebenarnya kesepian. Dan ada malam-malam ketika seseorang cuma ingin ditemani sebentar supaya tidak merasa terlalu sendirian.
Yang paling aku suka dari film ini adalah suasananya. Chungking Express punya rasa melankolis yang sulit dijelaskan. Film ini ramai, penuh warna, penuh musik, tapi tetap terasa kosong. Dan justru itu yang bikin emosinya terasa dekat.
Aku juga suka bagaimana Wong Kar-wai menggambarkan kesepian tanpa membuat semuanya terasa terlalu dramatis. Semua karakter di film ini tetap bekerja, tetap berjalan, tetap berbicara seperti biasa. Tapi kita tahu mereka sebenarnya sedang kehilangan sesuatu.
Memang, Chungking Express bukan film yang harus dipahami sepenuhnya. Film ini lebih cocok dirasakan. Ini tipe film yang suasananya tinggal lama setelah selesai. Bahkan setelah credits berakhir, rasanya masih ada bagian kecil dari film ini yang tertinggal di kepala.
Dan jujur, setelah menonton film ini aku merasa sedikit sedih, tapi juga hangat di saat yang sama. Sedih karena film ini sangat memahami rasa kehilangan dan kesepian manusia. Hangat karena di tengah semua kekacauan hidup, selalu ada kemungkinan kecil untuk bertemu seseorang yang membuat hati terasa sedikit lebih ringan, walaupun mungkin hanya sebentar.
Dengan visual yang ikonik, musik yang membekas, dan suasana melankolis yang sangat kuat, Chungking Express berhasil jadi salah satu karya Wong Kar-wai yang paling emosional dan sulit dilupakan.
Kalau kamu suka film yang lebih fokus pada suasana dan perasaan dibanding cerita yang benar-benar rapi, maka film ini adalah film yang wajib ditonton setidaknya sekali seumur hidup.
Karena kadang film terbaik bukan film yang memberi jawaban, tapi film yang membuat kita merasa sedikit lebih dimengerti.
Ada beberapa film yang rasanya seperti mimpi. Tidak benar-benar jelas, kadang berantakan, kadang random, tapi entah kenapa setelah selesai malah terus teringat di kepala. Chungking Express adalah salah satu film seperti itu.
PS : Konten dibuat dengan bantuan AI dengan beberapa perubahan
Source image : https://www.egyptiantheatre.com/film/chungking-express


